Mengembangkan Bahan Ajar Matematika untuk Kurikulum 2013 – berbasis karakter.

Cuplikan Kurikulum 2013 Matematika Kelas VII

No. Kompetensi Inti Kompetensi Dasar
1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2 Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya 2.1 Menunjukkan perilaku konsisten dan teliti dalam melakukan aktivitas di rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai wujud implementasi pemahaman tentang operasi hitung bilangan bulat dan pecahan

2.2 Menunjukkan perilaku ingin tahu dalam melakukan aktivitas di rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai wujud implementasi penyelidikan operasi bilangan bulat

2.3 Menunjukkan perilaku jujur dan bertanggung jawab sebagai wujud implementasi kejujuran dalam melaporkan data pengamatan

2.4 Menunjukkan perilaku disiplin dalam melakukan aktivitas di rumah, sekolah, dan masyarakat sebagai wujud implementasi pelaksanakan prosedur dalam menggambar segitiga, garis tinggi, garis bagi, garis berat, dan garis sumbunya menggunakan penggaris, jangka, dan busur

3

Mari kita coba buat bahan ajarnya. Prilaku bagaimana mengukurnya ya… Tentu perlu ada proses observasi

Pentingnya Disposisi Matematik

Ukuran pencapaian kompetensi, guru maupun orang tua seringkali lebih memperhatikan unsur kognitifnya saja, pada sekolah umum, dan atau sisi psikomotorik saja, untuk kompetensi keahlian seperti yang diajarkan di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), namun sisi afektif seringkali dilupakan. Sebagai contoh kasus, ketika anak hendak masuk sekolah, anak tersebut akan dijejali beragam pertanyaan kognitif melalui ujian tes masuk.   Sisi afektif walau merupakan domain yang sering dilupakan, tetapi domain ini merupakkan hal yang penting karena didalamnya ada gairah, minat, sikap positif atau negatif memandang sesuatu, dan disposisi (kecenderungan).  Pada posisi ini, afektif merupakan bahan bakarnya kognitif ataupun psikomotorik. Sebagai analogi domain kognitif, ketika sekelompok anak berkemampuan sama dihadapkan dengan persoalan, matematik misalnya, maka akan ada anak yang cepat menyerah, ada yang berusaha keras kemudian menyerah, serta ada yang terus berusaha dan tidak pernah menyerah. Kemudian analogi psikomotorik, misal satu tim sepak bola tertinggal dengan skor 3-1 sementara waktu yang tersisa hanya 10 menit lagi. Tim yang tertinggal terus berusaha dengan gigih untuk menyamakan kedudukan dan akhirnya pada setiap 5 menit tercipta 1 gol. Itulah gambaran betapa pentingnya disposisi.  
Baca lebih lanjut

Ada apakah dengan instrumen Ujian Nasional?

Ujian Nasional (UN) SMA baru saja diumumkan. Hasilnya adalah  99% lebih siswa yang ikut ujian adalah lulus (Kompas, 24/05/2013). Tentu kita semua bergembira mendengar kabar tersebut. Namun, kabar ini sepertinya berkebalikan dengan hasil yang dirilis oleh PISA(Programme for International Student Assessment) tahun 2012 dan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) tahun 2011 yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang mempunyai kualitas pendidikan yang kurang baik, dibanding negara-negara tersurvei.

Menjawab fenomena tersebut, sedikitnya ada tiga kemungkinan yang terjadi.  Pertama alat evaluasi yang terlalu mudah. Kedua, ada kecurangan dalam menjawab soal evaluasi. Ketiga, kompetensi siswa kita sudah bagus, hanya persaingan di tingkat dunia sudah sangat ketat.

Luasnya wilayah dan banyaknya jumlah penduduk Indonesia satu fakta yang tidak dapat dipungiri bahwa tidak mudah membuat instumen (alat ukur) untuk mengevaluasi kemampuan siswa. Untuk itu, membuat instrumen yang reliable (ajeg) dan valid (absah) bagi Negeri ini tidak mudah, akan tidak sedikit biaya, waktu, dan sumberdaya yang dikeluarkan. Bila soal evaluasi dibuat terlalu mudah maka akan tidak reliabel pada sekolah-sekolah perkotaan yang realtif lebih unggul dari sekolah terpencil atau di daerah. Begitu juga sebaliknya, bila soal terlalu sulit maka instrumen akan tidak reliable pada sekolah-sekolah di daerah atau terpencil. Pertanyaannya, soal-soal UN tahun ini terlalu mudah atau terlalu sulit? Apa betul soal yang baik adalah soal yang dapat diselesaikan dengan baik oleh sebagian besar siswa?

Membahas kecurangan dalam UN sarat dengan kepentingan. Di sisi akademisi, UN diharapkan dilakukan secara murni dan konsekwen agar dapat memotret secara baik kekurangan pengembangan dan penelitian pada bidang pendidikan. Namun lain di sisi birokrat, mereka selalui ingin kabar hasil yang baik agar dinilai berhasil dalam menerapkan kebijakan, tentu dengan kepentingan politis. Untuk itu, perlu ada evaluasi proses evaluasi UN. Betulkah hasil UN ini merupakan hasil yang sebenarnya atau memang sarat dengan kepentingan politis.

Persaingan dunia semakin ketat adalah kenyataan yang tidak dapat dimungkiri. Namun, kalau indikator-indikator dunia menyatakan bahwa rendahnya kompetensi bukan karena perbandingan, tentu ini menjadi masalah. Maksudnya adalah kemampuan siswa kita rendah bukan dibandingkan dengan siswa dengan negara lain saja, akan tetapi karena memang tidak dapat menjawab instrumen yang dibuat para evaluator tingkat dunia, PISA dan TIMSS misalnya.   Lebih dari itu, bukankah kita sudah masuk jaman globalisasi, kalau kemudian alat ukur kita tidak dapat menjadi tolak ukur di dunia, apa peran UN hanya dijadikan pemetaan di Indonesia saja.  Sempit sekali manfaat instrumen UN, kalau begitu.

Jigsaw-Cooperative Learning.

Jigsaw adalah salah satu tipe dari belajar kelompok (cooperative learning). Jigsaw dikembangakan oleh Elliot Aronson, seorang guru di Amerika. Elliot punya gagasan mengembangkan Jigsaw ketika menghadapi realita beragamnya latarbelakang kultur, ras, tingkat ekonomi, dan sebagainya. Beragamnya peserta didik seringkali membuat kelompok-kelompok sesuai dengan kesamaan karakteristik. Kelompok-kelompok menjadi kelompok yang punya egoisme. Akibatnya sering terjadi benturan dalam pembelajaran di dalam kelas. Dari kejadian teresebut Elliot mempunyai ide bagaimana membaurkan peserta didik sehingga dapat menghilangkan egoisme kesamaan ras dan sebagainya.

Untuk memecahkan hal tersebut Elliot mengelompokkan peserta didik menjadi lima sampai enam orang. Anggota pada setiap kelompok harus beragam, dari ras(keturunan), gender, asal tinggal, tingkat ekonomi, dan lain. Inti pengelempokan pada tipe jigsaw adalah mengakomodasi keragaman.

Tipe jigsaw sangat menjunjung pluralistik. Karakter dari tipe ini sangat cocok bagi pembelajaran yang ingin menampung opini suatu masalah dari berbagi sudut pandang. Isu-isu sosial yang mengharapkan pendapat dari berbagai kelompok sosial, gender, etnis, tingkat kecerdasan, dan lain-lain, sangat cocok kerjasama kelompok menggunakan tipe jigsaw.

%d blogger menyukai ini: